Ringkasan 10 point penting dari materi pembelajaran 14
- Penyuntingan akademik bertingkat: Substansi (argumen logis, novelty), bahasa (efektif formal, hindari ganti orang pertama), mekanik (ejaan PUEBI, konsistensi istilah).
- Teknik self-editing: Cooling period 1-2 hari, baca nyaring deteksi kalimat panjang, cek konsistensi singkatan/referensi.
- Presentasi ilmiah: Aturan 10-20-30 (slide-waktu-font), minimalis bullet points, visualisasi grafik untuk tren bukan tabel rumit.
- Struktur retorika: Hook perhatian, meat inti metodologi, payload implikasi; tanggapi Q&A via "listen-acknowledge-answer".
- Pemilihan jurnal: Sesuaikan scope, cek indeksasi SINTA/Scopus/impact factor, pilih open access vs subscription.
- Peer review: Editor screening → minor/major revision/accepted/rejected; siapkan revisi substansi/data.
- Etika publikasi: Hindari plagiarisme (kutip tepat), salami slicing (pecah data demi kuantitas), double submission.
- Penyuntingan substansi pastikan alur logika pendahuluan-kesimpulan tanpa fallacy, lengkapi data pendukung.
- Presentasi visual psikologi kognitif: Hindari overcrowd slide, gunakan diagram hubungan variabel untuk pemahaman cepat.
- Kesimpulan: Editing jernihkan pesan, presentasi beri feedback instan, publikasi legitimasi ilmiah via etika ketat.
Pertanyaan Pemantik
1. Mengapa penyuntingan mekanik yang buruk bisa menyebabkan penolakan jurnal meskipun isinya bagus?jawab: Penyuntingan mekanik lemah seperti salah ejaan, grammar buruk, atau format asal jadi alasan utama tolak naskah di meja editor, walau substansi kuat, karena tunjukkan kurang profesional dan susah dibaca.
2. Apa perbedaan mendasar menyunting tulisan sendiri vs orang lain?
jawab: Bedanya edit tulisan sendiri susah objektif—penulis sering abai kekurangan pribadi—sedangkan edit karya orang lain lebih kritis karena lihat dari sudut pandang luar.
3. Sejauh mana AI (seperti ChatGPT) boleh digunakan dalam penyuntingan akademik?
jawab: AI tipe ChatGPT boleh dipakai cek tata bahasa, ganti kata, atau rapikan struktur (maksimal 30% draft), tapi jangan buat argumen pokok atau ide novelty supaya orisinalitas terjaga dan lolos deteksi AI.
4. Mengapa visualisasi data lebih efektif daripada narasi panjang saat presentasi?
jawab: Visual data unggul karena otak tangkap grafik/pola 60.000 kali lebih cepat ketimbang baca narasi panjang; ringankan beban kognitif, tingkatkan ingat 65% di sesi presentasi.
5. Bagaimana mengatasi kegugupan saat tanya jawab di konferensi?
jawab: Gunakan trik "Dengar-Aku-Jawab": Fokus dengar pertanyaan, akui benarnya ("Memang sampel terbatas"), balas pakai data; latihan rekam video 3 kali bisa tekan cemas hingga 40%.
6. Apa langkah selanjutnya jika naskah ditolak oleh editor sebelum peer review?
jawab: Analisis catatan editor (tak cocok scope/metode), benahi isi utama, kirim ulang ke jurnal se-tema via pencari SINTA/Scopus; arsip umpan balik untuk perbaikan selanjutnya.
7. Mengapa etika publikasi sangat krusial di dunia akademik?
jawab: Aturan publikasi lindungi kejujuran sains (no plagiat/salami), jaga nama baik karir (akumulasi Scopus/SINTA), hindari sanksi berat (tarik artikel/hukum); sekali langgar, CV hancur permanen.
8. Bagaimana menentukan urutan penulis dalam kolaborasi?
jawab: Urut berdasar kontribusi: Utama (desain/analisis), ko-urut usaha (kumpul data/edit), pembimbing akhir; sepakati tulis awal proyek pakai taksonomi CRediT.
9. Apa risiko publikasi di jurnal "predatory"?
jawab: Jurnal predator nodai reputasi (tak ada peer review, indeks bohongan), rugi biaya (Rp5-20 juta), kena blokir Scopus/SINTA, picu cek ulang plagiat; validasi via Beall's List/Scimago.
10. Bagaimana menyederhanakan bahasa teknis tanpa merusak esensi ilmiahnya?
jawab: Ubah jargon jadi cerita sederhana ("pentahelix seperti tim bola 5 pemain"), beri definisi singkat saat muncul pertama, susun piramida (inti dulu → rinci); uji baca mudah Flesch 60+ tanpa kehilangan makna.
Pertanyaan Reflektif
1. Bagian penyuntingan mana yang paling sulit bagi saya?jawab: Penyuntingan substansi paling menantang karena sulit menilai objektif kekuatan argumen pribadi, acap kali lalai celah logika atau novelty kurang tajam.
2. Apakah saya lebih fokus pada tata bahasa atau kekuatan argumen?
jawab: Saya cenderung prioritaskan tata bahasa (edit grammar/EYD sendiri) ketimbang argumen; seimbangkan lewat jeda pendinginan untuk utamakan substansi.
3. Apakah saya akan tertarik menonton presentasi saya sendiri?
jawab: Presentasi sendiri kurang seru karena slide penuh/narasi bertele; pakai aturan 10-20-30 supaya menawan seperti visualisasi sampah Serang.
jawab: Kesiapan 70%: Lancar minor revisi, tapi major butuh ketabahan; asah dari masukan dosen untuk revisi lincah tanpa pertahanan berlebih.
5. Pernahkah saya mengabaikan sitasi karena menganggap suatu ide adalah "umum"?
jawab: Pernah anggap POAC "biasa" tanpa rujuk; kini rajin sitasi walaupun ide dasar demi jejak ilmiah dan jauhi plagiat samar.
jawab: Pokok: Tingkatkan skor SINTA/Scopus demi karir pengajar, sumbang solusi sampah Serang, kuasai PjBL untuk jurnal daerah.
jawab: Geram plus pilu usaha lenyap; gugat tarik ulang dan beri kredit via aturan jurnal, kuatkan tanda ide ke depan.
jawab:
- Diamkan semalam.
- Baca keras pagi, iris kata berulang.
- Tes Turnitin <15%, tambah 5 rujukan baru.
- Gambar mindmap argumen, sisip tabel visual.
- Minta review teman petang.