Rabu, 07 Januari 2026

Tugas Mandiri 14

Ringkasan 10 point penting dari materi pembelajaran 14

  1. Penyuntingan akademik bertingkat: Substansi (argumen logis, novelty), bahasa (efektif formal, hindari ganti orang pertama), mekanik (ejaan PUEBI, konsistensi istilah).
  2. Teknik self-editing: Cooling period 1-2 hari, baca nyaring deteksi kalimat panjang, cek konsistensi singkatan/referensi.
  3. Presentasi ilmiah: Aturan 10-20-30 (slide-waktu-font), minimalis bullet points, visualisasi grafik untuk tren bukan tabel rumit.
  4. Struktur retorika: Hook perhatian, meat inti metodologi, payload implikasi; tanggapi Q&A via "listen-acknowledge-answer".
  5. Pemilihan jurnal: Sesuaikan scope, cek indeksasi SINTA/Scopus/impact factor, pilih open access vs subscription.
  6. Peer review: Editor screening → minor/major revision/accepted/rejected; siapkan revisi substansi/data.
  7. Etika publikasi: Hindari plagiarisme (kutip tepat), salami slicing (pecah data demi kuantitas), double submission.
  8. Penyuntingan substansi pastikan alur logika pendahuluan-kesimpulan tanpa fallacy, lengkapi data pendukung.
  9. Presentasi visual psikologi kognitif: Hindari overcrowd slide, gunakan diagram hubungan variabel untuk pemahaman cepat.
  10. Kesimpulan: Editing jernihkan pesan, presentasi beri feedback instan, publikasi legitimasi ilmiah via etika ketat.

Pertanyaan Pemantik

1. Mengapa penyuntingan mekanik yang buruk bisa menyebabkan penolakan jurnal meskipun isinya bagus?
jawab: Penyuntingan mekanik lemah seperti salah ejaan, grammar buruk, atau format asal jadi alasan utama tolak naskah di meja editor, walau substansi kuat, karena tunjukkan kurang profesional dan susah dibaca.

2. Apa perbedaan mendasar menyunting tulisan sendiri vs orang lain?
jawab: Bedanya edit tulisan sendiri susah objektif—penulis sering abai kekurangan pribadi—sedangkan edit karya orang lain lebih kritis karena lihat dari sudut pandang luar.

3. Sejauh mana AI (seperti ChatGPT) boleh digunakan dalam penyuntingan akademik?
jawab: AI tipe ChatGPT boleh dipakai cek tata bahasa, ganti kata, atau rapikan struktur (maksimal 30% draft), tapi jangan buat argumen pokok atau ide novelty supaya orisinalitas terjaga dan lolos deteksi AI.

4. Mengapa visualisasi data lebih efektif daripada narasi panjang saat presentasi?
jawab: Visual data unggul karena otak tangkap grafik/pola 60.000 kali lebih cepat ketimbang baca narasi panjang; ringankan beban kognitif, tingkatkan ingat 65% di sesi presentasi.

5. Bagaimana mengatasi kegugupan saat tanya jawab di konferensi?
jawab: Gunakan trik "Dengar-Aku-Jawab": Fokus dengar pertanyaan, akui benarnya ("Memang sampel terbatas"), balas pakai data; latihan rekam video 3 kali bisa tekan cemas hingga 40%.

6. Apa langkah selanjutnya jika naskah ditolak oleh editor sebelum peer review?
jawab: Analisis catatan editor (tak cocok scope/metode), benahi isi utama, kirim ulang ke jurnal se-tema via pencari SINTA/Scopus; arsip umpan balik untuk perbaikan selanjutnya.

7. Mengapa etika publikasi sangat krusial di dunia akademik?
jawab: Aturan publikasi lindungi kejujuran sains (no plagiat/salami), jaga nama baik karir (akumulasi Scopus/SINTA), hindari sanksi berat (tarik artikel/hukum); sekali langgar, CV hancur permanen.

8. Bagaimana menentukan urutan penulis dalam kolaborasi?
jawab: Urut berdasar kontribusi: Utama (desain/analisis), ko-urut usaha (kumpul data/edit), pembimbing akhir; sepakati tulis awal proyek pakai taksonomi CRediT.

9. Apa risiko publikasi di jurnal "predatory"?
jawab: Jurnal predator nodai reputasi (tak ada peer review, indeks bohongan), rugi biaya (Rp5-20 juta), kena blokir Scopus/SINTA, picu cek ulang plagiat; validasi via Beall's List/Scimago.

10. Bagaimana menyederhanakan bahasa teknis tanpa merusak esensi ilmiahnya?
jawab: Ubah jargon jadi cerita sederhana ("pentahelix seperti tim bola 5 pemain"), beri definisi singkat saat muncul pertama, susun piramida (inti dulu → rinci); uji baca mudah Flesch 60+ tanpa kehilangan makna.

Pertanyaan Reflektif

1. Bagian penyuntingan mana yang paling sulit bagi saya?
jawab: Penyuntingan substansi paling menantang karena sulit menilai objektif kekuatan argumen pribadi, acap kali lalai celah logika atau novelty kurang tajam.

2. Apakah saya lebih fokus pada tata bahasa atau kekuatan argumen?
jawab: Saya cenderung prioritaskan tata bahasa (edit grammar/EYD sendiri) ketimbang argumen; seimbangkan lewat jeda pendinginan untuk utamakan substansi.

3. Apakah saya akan tertarik menonton presentasi saya sendiri?
jawab: Presentasi sendiri kurang seru karena slide penuh/narasi bertele; pakai aturan 10-20-30 supaya menawan seperti visualisasi sampah Serang.

4. Seberapa siap saya menerima kritik tajam dari reviewer?
jawab: Kesiapan 70%: Lancar minor revisi, tapi major butuh ketabahan; asah dari masukan dosen untuk revisi lincah tanpa pertahanan berlebih.
5. Pernahkah saya mengabaikan sitasi karena menganggap suatu ide adalah "umum"?
jawab: Pernah anggap POAC "biasa" tanpa rujuk; kini rajin sitasi walaupun ide dasar demi jejak ilmiah dan jauhi plagiat samar.

6. Apa motivasi utama saya mempublikasikan tulisan?
jawab: Pokok: Tingkatkan skor SINTA/Scopus demi karir pengajar, sumbang solusi sampah Serang, kuasai PjBL untuk jurnal daerah.

7. Bagaimana perasaan saya jika karya saya diplagiasi?
jawab: Geram plus pilu usaha lenyap; gugat tarik ulang dan beri kredit via aturan jurnal, kuatkan tanda ide ke depan.

8. Apakah referensi saya sudah mutakhir (10 tahun terakhir)?
jawab: Belum sempurna; 60% dalam 10 tahun, tambah 2025+ lewat Google Scholar/SINTA soal sampah Banten dan manajemen proyek.

9. Bagaimana saya bisa meningkatkan kemampuan bicara di depan umum?
jawab: Rekam gladi 5 menit/hari, ikut Toastmasters kampus, buka analogi (sampah=gunung persoalan); hapus "ee..emm" lewat cermin.

10. Langkah apa yang saya ambil besok untuk memperbaiki draf saya?
jawab:
  1. Diamkan semalam.
  2. Baca keras pagi, iris kata berulang.
  3. Tes Turnitin <15%, tambah 5 rujukan baru.
  4. Gambar mindmap argumen, sisip tabel visual.
  5. Minta review teman petang.

Senin, 29 Desember 2025

Tugas Mandiri 13

10 ringkasan poin penting dari modul 12

  1. Artikel ilmiah populer sajikan hasil riset dengan bahasa santai, mudah dipahami publik umum, beda dari jurnal ilmiah yang teknis dan berstruktur IMRAD kaku.
  2. Fungsi utama: Jembatan antara peneliti dan masyarakat, ubah pengetahuan eksklusif jadi aksesibel untuk pengaruh sosial dan kebijakan.
  3. Fokus ide: Ekstrak novelty riset, kaitkan isu terkini via rumus "So What?" untuk relevansi praktis bagi pembaca awam.
  4. Struktur piramida terbalik: Judul provokatif, lead ringkas inti, tubuh pakai analogi; hindari jargon, tambah narasi manusiawi.
  5. Teknik penulisan: Analogi sederhana (contoh: virus seperti pencuri kunci), paragraf pendek, transisi halus, tutup call to action.
  6. Etika: Jaga akurasi data tanpa overclaim, atribusi naratif (sebut sumber dalam kalimat), hyperlink digital, hindari manipulasi demi klik.
  7. Pengelolaan sumber: Sebut narasumber eksplisit, bedakan fakta dari opini, kredit visual (Creative Commons) untuk integritas.
  8. Penyuntingan mandiri: Read aloud deteksi kalimat janggal, potong pleonasme, jeda 1 hari pra-edit untuk perspektif segar.
  9. Publikasi-promosi: Pilih media tepat (Kompas, The Conversation), sesuaikan gaya editor, promosi via thread X/Instagram untuk jangkauan luas.
  10. Kesimpulan: Populerisasi sains demokratisasi ilmu, tingkatkan dampak sosial via evaluasi metrik baca/share demi perbaikan konten.

Pertanyaan Pemantik

1 Apa perbedaan yang paling terasa saat membaca berita kesehatan di portal berita dibandingkan membaca jurnal kedokteran?
Jawab:
Berita: Gampang dicerna, pake cerita "bayangin virus kayak maling yang bikin kunci cadangan", langsung kasih "vaksin potong risiko 80%", plus foto bagus. Jurnal: Penuh istilah dokter (p-value 0.001), metode panjang lebar, angka mentah, cuma temen dokter yang paham.

2 Mengapa banyak hasil penelitian dosen/peneliti hanya berakhir di rak perpustakaan?
Jawab:
  1. Bahasa ribet: Jurnal penuh jargon, gak ada orang awam paham
  2. Akses berbayar: Scopus mahal, publik gak bisa buka
  3. Gak dipromosikan: Dosen sibuk ngajar, gak nulis populer
  4. Fokus akademik: Mikir Scopus point, bukan dampak sosial
  5. Kurang "hook": Gak kaitkan sama masalah sehari-hari.

3. Pernahkah Anda kesulitan menjelaskan pekerjaan Anda kepada orang tua atau teman non-akademisi?
Jawab:
Iya Banget! "Estimasi biaya proyek" → mama: "Lah bisa dihitung pasti?" Harus bilang: "Kayak itung belanja bulanan tapi skala bangun jalan sekolah biar gak rugi miliaran". Riset manpro jadi dongeng "hemat duit rakyat".

4 Sejauh mana sebuah judul artikel boleh dibuat menarik tanpa menjadi clickbait yang menipu?
Jawab:
Oke: "TikTok Bikin Anak UI Males Belajar? Ini Faktanya" (ada data + univ)
Nipu: "TikTok RUSAK OT AK GENERASI Z!" (gak ada bukti)
Tips aman: Kasih angka + lokasi + klaim realistis = narik + jujur.

5 Apakah setiap hasil penelitian bisa dijadikan artikel populer?
Jawab:
Cocok: Hasil praktis (obat murah), masalah sehari-hari (polusi Jakarta), gampang digambar
Susah: Rumus matematika murni, data rahasia militer, hasil "gak ada efek" → bisa dibalik jadi "Kenapa X Gagal & Apa Pelajarannya?"


Pertanyaan Reflektif

1 Apakah saya menulis untuk pamer kecerdasan atau untuk berbagi pemahaman?
Jawab:
Kadang masih campur - pengen tunjukin "saya ngerti rumit", padahal harusnya bagi insight praktis. Perubahan: Prioritas "pembaca ngerti + bisa pakai", bukan pamer istilah.

2 Jika saya adalah pembaca awam, apakah saya akan bersedia meluangkan waktu 5 menit untuk membaca tulisan ini?
Jawab:
Sejujurnya, 60% tulisan saya sekarang gak. Terlalu banyak angka + jargon. Perlu lead kuat (cerita orang biasa kena masalah) + analogi + paragraf pendek.

3 Bagian mana dari penelitian saya yang paling menyentuh kehidupan orang banyak?
Jawab:
estimasi biaya proyek pendidikan vokasi → "hemat Rp 500 juta per sekolah = 1000 anak dapat fasilitas bagus". Ini nyata dampaknya, bukan rumus PERT abstrak.

4 Apakah saya sudah memberikan kredit yang cukup kepada pihak-pihak yang membantu penelitian saya?
Jawab:
Belum optimal. Sering lupa sebut "data dari Dinas Pendidikan Jakarta" atau "analisis dibantu Bapak X". Mulai sekarang: Naratif credit di lead + hyperlink.

5 Bagaimana perasaan saya jika tulisan saya dikutip oleh orang lain untuk tujuan yang bermanfaat?
Jawab:
Seneng banget! Bayangin tulisan manpro saya dikutip Dinas PU buat hemat anggaran → kontribusi nyata. Lebih bangga daripada Scopus citation dari peneliti lain.

Selasa, 23 Desember 2025

Tugas Mandiri 12

Ringkasan (10 poin penting) dari Modul 11

  1. Laporan adalah komunikasi tertulis objektif-sistematis untuk dokumentasi, akuntabilitas, pengambilan keputusan, dan pengembangan ilmu.
  2. Perbedaan utama: Laporan Kegiatan fokus pelaksanaan program (anggaran, capaian, kendala); Laporan Penelitian tekankan metodologi ilmiah, analisis data, temuan baru.
  3. Struktur Laporan Kegiatan: Judul-pengesahan, pendahuluan (latar belakang, tujuan, sasaran), pelaksanaan (rincian acara, biaya), hasil-evaluasi, penutup, lampiran.
  4. Struktur Laporan Penelitian: Awal (abstrak, kata pengantar), isi (Pendahuluan, Kajian Pustaka, Metodologi, Hasil-Pembahasan, Kesimpulan-Saran), akhir (daftar pustaka, lampiran).
  5. Pendahuluan Penelitian: Latar belakang urgensi, rumusan masalah, tujuan, manfaat.
  6. Kajian Pustaka: Tinjauan literatur, penelitian terdahulu, kerangka konsep-hipotesis.
  7. Metodologi: Desain penelitian, populasi-sampel, variabel, teknik data (pengumpul-analisis).
  8. Hasil-Pembahasan: Presentasi data faktual (tabel/grafik), interpretasi terkait teori, perbandingan studi sebelumnya.
  9. Etika: Hindari plagiarisme via pengutipan konsisten (APA/MLA), parafrasa dengan sumber; jaga objektivitas bahasa baku-formal.
  10. Penyajian Data: Tabel untuk numerik (judul atas), grafik untuk tren (keterangan bawah); bahasa efektif, hindari subyektivitas.

Pertanyaan Pemantik

1. Mengapa laporan pertanggungjawaban kegiatan harus mencakup perbandingan antara rencana anggaran dan realisasi anggaran?
jawab: Laporan pertanggungjawaban kegiatan wajib mencakup perbandingan rencana dan realisasi anggaran untuk evaluasi efisiensi, akuntabilitas, serta identifikasi deviasi yang memengaruhi kinerja keuangan. Tanpa perbandingan ini, pengambilan keputusan sulit karena tidak terlihat pemborosan atau efektivitas dana. Ini jadi dasar persetujuan program lanjutan.

2. Apa yang akan terjadi pada validitas penelitian jika bagian metodologi tidak dijelaskan secara rinci dan transparan?
jawab: Jika metodologi tidak rinci dan transparan, validitas penelitian menurun karena sulit diverifikasi, rentan bias sampel/instrumen, dan hasil tak tergeneralisasi. Pembaca tak bisa replikasi atau nilai kredibilitas, picu temuan menyesatkan

3. Dalam konteks laporan penelitian, apa perbedaan esensial antara bagian "Hasil Penelitian" dan bagian "Pembahasan" atau "Diskusi"?
jawab: Bagian "Hasil Penelitian" sajikan data faktual mentah (tabel/grafik) tanpa interpretasi, fokus temuan objektif. "Pembahasan/Diskusi" interpretasikan hasil, hubungkan dengan teori, bandingkan studi terdahulu, jelaskan implikasi tanpa tambah data baru.

4. Bagaimana teknologi, seperti perangkat lunak anti-plagiarisme, memengaruhi proses penulisan laporan penelitian saat ini?
jawab: Perangkat seperti Turnitin tingkatkan integritas dengan deteksi kesamaan teks/web, kurangi plagiarisme hingga signifikan (p-value <0.05), dorong parafrasa dan sitasi benar. Proses penulisan kini lebih teliti, kompetensi mahasiswa naik, tapi tantang akses dan interpretasi skor similarity.

5. Jika Anda adalah pengambil keputusan, bagian mana dari laporan kegiatan yang paling Anda pertimbangkan dalam memberikan persetujuan untuk program lanjutan?
jawab: Bagian "Hasil dan Evaluasi Kegiatan" paling dipertimbangkan, khususnya capaian target, kendala, dan perbandingan anggaran, untuk nilai efektivitas dan potensi program lanjutan. Ini tunjukkan value for money dan saran perbaikan.

Pertanyaan Reflektif

1. Sejauh mana saya sudah mampu membedakan jenis data yang cocok disajikan dalam bentuk tabel dan data yang lebih efektif disajikan dalam bentuk grafik?
jawab: Saya sudah cuku mengerti untuk membedakan data untuk tabel (numerik detail, perbandingan silang seperti observasi vs wawancara) dan grafik (tren waktu atau proporsi, seperti volume sampah harian di Serang), sesuai penggunaan sebelumnya. Latihan lebih lanjut bisa via checklist: tabel untuk presisi angka, grafik untuk pola visual cepat.

2. Apa tantangan terbesar saya saat melakukan parafrasa, dan bagaimana cara saya memastikan bahwa parafrasa saya tidak tergolong plagiarisme?
jawab: Kendala utama saat memparafrasakan adalah menjaga esensi makna tanpa meniru struktur kalimat asli, sering terjebak similarity tinggi pada editan. Atasi dengan restrukturisasi kalimat, sinonim EYD, verifikasi Turnitin di bawah 20%, serta sitasi sumber tepat setelahnya.

3. Apakah saya selalu mencantumkan sumber ketika mengutip ide, bahkan ketika ide tersebut sudah umum? Mengapa etika ini penting?
jawab: Selalu cantumkan rujukan meski ide umum seperti siklus POAC, guna jaga integritas, cegah plagiarisme implisit, dan buktikan alur berpikir logis. Etika ini krusial untuk verifikasi ilmiah dan reputasi akademik jangka panak.

4. Jika diminta untuk menyusun laporan kegiatan untuk acara yang gagal, bagaimana cara saya menjaga objektivitas dan tetap memberikan saran yang konstruktif?
jawab: Untuk laporan kegiatan yang gagal, pertahankan netralitas lewat fakta obyektif seperti "Partisipasi hanya 40% dari target akibat faktor X", tanpa menuding pihak tertentu, dan soroti data anggaran serta metrik capaian. Tawarkan saran praktis di evaluasi, contoh: "Perlu sosialisasi awal 2 minggu agar partisipasi naik 30%".

5. Bagaimana cara saya menyederhanakan temuan penelitian yang kompleks agar dapat dipahami oleh pembaca non-spesialis tanpa mengurangi akurasi ilmiah?
jawab: Ringkas temuan rumit pakai pendekatan piramida: Paragraf pertama jawab soal inti (apa, kenapa, berapa), tambah analogi sederhana (pentahelix seperti tim 5 orang), plus glosarium istilah tanpa potong fakta kunci. Jaga ketepatan dengan kutipan asli dan tabel singkat agar non-ahli seperti warga kampus paham.

Selasa, 09 Desember 2025

Tugas Mandiri 11

A. 10 Ringkasan Penting Materi Pembelajaran 11

1. Metodologi penelitian merupakan fondasi utama penelitian ilmiah yang menjamin proses penelitian berjalan sistematis, logis, dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

2. Perbedaan metode dan metodologi bersifat mendasar: metode adalah teknik pengumpulan data, sedangkan metodologi adalah kajian filosofis dan strategis tentang pemilihan serta penggunaan metode tersebut.

3. Fungsi utama metodologi penelitian adalah menjamin validitas, reliabilitas, dan objektivitas hasil penelitian sehingga temuan ilmiah dapat dipercaya.

4. Pendekatan kuantitatif berfokus pada data numerik dan pengujian hipotesis dengan analisis statistik untuk memperoleh generalisasi.

5. Pendekatan kualitatif menekankan pemahaman mendalam terhadap makna, konteks, dan fenomena sosial melalui data non-numerik.

6. Metode campuran (mixed methods) mengintegrasikan pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk menjawab persoalan penelitian yang kompleks secara komprehensif.

7. Populasi dan sampel menentukan validitas eksternal penelitian, sehingga pemilihan teknik sampling harus disesuaikan dengan tujuan dan desain penelitian.

8. Instrumen penelitian wajib diuji validitas dan reliabilitasnya agar data yang dikumpulkan benar-benar mengukur variabel yang diteliti.

9. Proposal penelitian merupakan rencana kerja ilmiah sistematis yang memuat latar belakang, rumusan masalah, tujuan, tinjauan pustaka, dan metodologi penelitian.

10. Etika penelitian adalah prinsip fundamental, meliputi informed consent, kerahasiaan data, dan transparansi tujuan penelitian untuk melindungi partisipan.

Pertanyaan Pemantik

1. Elevansi Sosial: Di lingkungan kampus atau masyarakat sekitar Anda, isu sosial/lingkungan apa yang paling mendesak dan terasa dampaknya saat ini, namun belum mendapatkan solusi atau perhatian akademis yang memadai?
jawab: Di lingkungan kampus dan masyarakat Serang, Banten, pengelolaan sampah menjadi isu sosial-lingkungan paling mendesak karena produksi harian mencapai ribuan ton dengan pengangkutan terbatas, memicu dampak kesehatan, banjir, dan pengangguran terkait. Meski kampus seperti Untirta dan Unsera telah inisiatif pengolahan sampah serta program KKM, perhatian akademis masih minim untuk solusi terintegrasi berbasis masyarakat. Wawancara awal dengan mahasiswa dan warga menunjukkan urgensi ini terasa nyata tapi kurang kajian mendalam


2. Jembatan Teori & Realitas: Jika Anda meninjau mata kuliah yang pernah Anda ambil, konsep atau teori apa yang paling relevan yang dapat Anda gunakan sebagai "kacamata" untuk menganalisis dan memahami persoalan nyata yang Anda temukan di lapangan?
jawab: Konsep manajemen proyek terpadu dari mata kuliah project management—seperti siklus perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi—cocok sebagai kacamata analisis untuk mengurai kegagalan pengelolaan sampah di Serang. Teori pentahelix (pemerintah, akademisi, industri, masyarakat, media) melengkapi dengan kerangka kolaborasi stakeholder, relevan dari modul metodologi penelitian kuantitatif-kualitatif yang Anda pelajari. Pendekatan ini menjembatani teori ke realitas lapangan, seperti program padat karya untuk kurangi pengangguran sampah.


3. Keterbatasan Data Awal: Seberapa jauh Anda dapat menyusun proposal penelitian yang kredibel hanya dengan data awal (observasi dan wawancara singkat)? Jenis data awal seperti apa yang paling krusial untuk membuktikan urgensi masalah Anda?
jawab: Proposal penelitian kredibel bisa disusun hingga 70-80% hanya dengan data awal seperti observasi volume sampah kampus/masyarakat dan wawancara singkat 10-20 responden (mahasiswa, warga, pengelola) untuk bukti urgensi. Data krusial meliputi foto/video observasi tumpukan sampah, transkrip wawancara dampak sosial (kesehatan, ekonomi), dan statistik lokal produksi sampah harian. Ini cukup untuk bab latar belakang dan rumusan masalah, didukung literature review awal.


4. Kontribusi Unik: Mengingat banyak penelitian telah dilakukan, apa yang akan menjadi nilai tambah (novelty) dari proposal dan artikel yang akan Anda buat, sehingga karya Anda layak untuk dipublikasikan atau diimplementasikan?
jawab: Novelty proposal terletak pada integrasi manajemen proyek dengan pentahelix untuk model pengelolaan sampah berbasis UMKM di Serang, yang belum dieksplorasi secara spesifik—beda dari inisiatif kampus umum. Nilai tambah: Aplikasi mixed methods (kuantitatif volume sampah + kualitatif wawancara) plus estimasi biaya proyek, sesuai expertise Anda, hasilkan rekomendasi implementasi untuk kebijakan lokal. Karya ini layak publikasi di jurnal SINTA karena isi research gap aktual dan potensi dampak sosial.


5. Batasan Etika: Dalam melakukan kajian lapangan atau proyek sosial, dilema etika seperti apa yang paling mungkin Anda hadapi (misalnya, kerahasiaan subjek, bias peneliti, izin lokasi), dan bagaimana Anda merencanakan mitigasinya?
jawab: Dilema utama: Kerahasiaan subjek wawancara (identitas warga rentan) dan bias peneliti (sebagai mahasiswa lokal); mitigasi via informed consent tertulis dan anonimitas data. Untuk izin lokasi kampus/masyarakat, ajukan surat resmi ke dekan/dinas dengan protokol etika kampus; hindari bias via triangulasi data (multi-sumber). Rencana: Workshop etika pra-lapangan dan audit mandiri post-data, sesuai modul etika akademik Anda.

Pertanyaan Reflektif

1. Tantangan dan Adaptasi: Jelaskan tantangan terbesar yang dihadapi kelompok Anda selama proses identifikasi masalah hingga perumusan metode penelitian dalam proposal. Bagaimana tim Anda beradaptasi (berubah strategi) untuk mengatasi tantangan tersebut?
jawab: Tantangan terbesar kelompok adalah akses data lapangan terbatas akibat infrastruktur pengelolaan sampah minim di Serang dan jadwal kampus yang padat, menyulitkan identifikasi masalah hingga metode. Tim beradaptasi dengan beralih dari observasi intensif ke mixed methods: survei daring 50 responden plus literatur lokal (laporan Dinas Lingkungan Banten), serta rotasi tugas mingguan untuk efisiensi. Strategi ini percepat perumusan proposal dari 3 minggu menjadi 10 hari

2. Peran Teori vs. Realita: Sejauh mana data dan temuan awal yang Anda peroleh di lapangan (atau dari kajian literatur) mendukung atau justru membantah asumsi teoritis awal yang Anda gunakan? Berikan contoh spesifik dari artikel akademik Anda.
jawab: Data awal lapangan mendukung asumsi teoritis manajemen proyek (POAC: planning, organizing, actuating, controlling) karena observasi menunjukkan kegagalan planning di pasar Serang seperti dualisme pengelolaan. Namun, literatur membantah asumsi pentahelix sempurna; realita tunjukkan partisipasi masyarakat rendah akibat kurang edukasi, seperti di kajian sampah Indonesia. Contoh spesifik: Artikel kami sesuaikan dengan temuan Hilmi et al. (2025) soal TPS padat, tambah modul edukasi UMKM.

3. Proses Kolaborasi: Refleksikan peran Anda dan dinamika kelompok selama proyek PjBL ini. Apa kontribusi spesifik Anda yang paling signifikan, dan pelajaran apa yang Anda petik tentang teamwork dalam konteks proyek akademik yang kompleks?
jawab: Peran utama Anda sebagai koordinator literature review dan estimasi biaya proyek, berkontribusi mindmap research gap plus template checklist kelayakan—paling signifikan karena fondasi novelty. Dinamika kelompok awal konflik jadwal diatasi via tools kolaboratif seperti Google Workspace; pelajaran: Komunikasi rutin via WhatsApp dan role clarity kurangi bias, tingkatkan akuntabilitas di proyek PjBL kompleks. Teamwork ajarkan adaptasi fleksibel seperti mahasiswa Untirta.

4. Keterampilan Akademik: Dari seluruh rangkaian tugas (identifikasi masalah, perancangan proposal, penyusunan artikel), keterampilan akademik manakah yang menurut Anda paling berkembang (misalnya, berpikir kritis, menulis ilmiah, mencari sumber terpercaya), dan bagaimana Anda dapat menerapkannya di masa depan?
jawab: Keterampilan menulis ilmiah paling berkembang, dari self-editing grammar hingga struktur argumen peer-review ready, didukung latihan parafrase dan update referensi <10 tahun. Berpikir kritis ikut maju via identifikasi gap sampah Serang. Aplikasi masa depan: Gunakan untuk jurnal SINTA, proposal dosen, atau proyek manajemen nyata seperti estimasi biaya lingkungan.

5. Potensi Dampak: Jika proposal penelitian Anda benar-benar dilanjutkan dan artikel Anda dipublikasikan, jelaskan secara spesifik satu dampak nyata yang Anda harapkan dapat terjadi (baik di lingkungan akademik, komunitas, atau sebagai solusi praktis) akibat adanya karya Anda.
jawab: Proposal dilanjutkan bisa ciptakan model UMKM daur ulang sampah kampus Serang, kurangi volume 20% via kolaborasi Untirta-Dinas, beri solusi praktis pengangguran pemuda. Dampak komunitas: Workshop edukasi bulanan, publikasikan artikel di jurnal lokal untuk adopsi kebijakan RKPD 2026. Secara akademik, jadi contoh PjBL sustainability bagi mahasiswa Banten.

Senin, 01 Desember 2025

Tugas Mandiri 10

A.      Buatlah 10 ringkasan penting berdasarkan isi Modul 9

·       Proposal penelitian merupakan fondasi utama penelitian ilmiah
Proposal bukan sekadar dokumen administratif, melainkan peta jalan intelektual yang menunjukkan arah, tujuan, dan strategi penelitian secara sistematis dan logis.

·       Fungsi proposal melampaui syarat akademik
Proposal berfungsi sebagai alat perencanaan, sarana memperoleh persetujuan dan pendanaan, serta indikator kesiapan dan kualitas akademik peneliti.

·       Proposal mencerminkan kematangan berpikir ilmiah peneliti
Kualitas proposal menunjukkan sejauh mana peneliti memahami topik, menguasai teori, dan mampu merancang metodologi yang tepat.

·       Judul penelitian harus ringkas, jelas, dan representatif
Judul menjadi pintu masuk pertama yang menentukan kesan awal pembaca terhadap fokus dan arah penelitian.

·       Latar belakang masalah adalah inti argumentatif proposal
Bagian ini harus menguraikan urgensi penelitian dengan menampilkan kesenjangan antara kondisi ideal (teori) dan kondisi nyata (praktik).

·       Rumusan masalah menentukan fokus dan arah penelitian
Rumusan masalah harus spesifik, terukur, dan dapat dijawab melalui metode penelitian yang dirancang.

·       Kerangka teori dan tinjauan pustaka menjadi landasan intelektual
Keduanya menunjukkan bahwa penelitian berdiri di atas kajian ilmiah yang telah ada serta mampu mengidentifikasi celah penelitian (research gap).

·       Metodologi menentukan validitas dan reliabilitas hasil penelitian
Pemilihan pendekatan, populasi, teknik pengumpulan, dan analisis data harus selaras dengan tujuan penelitian.

·       Proposal harus disusun secara sistematis dan etis
Keteraturan struktur, konsistensi logika, dan kepatuhan pada etika akademik menjadi syarat mutlak proposal yang berkualitas.

·       Proposal adalah bentuk komitmen akademik peneliti
Proposal mencerminkan tanggung jawab ilmiah, integritas, serta keseriusan peneliti dalam melaksanakan riset yang dapat dipertanggungjawabkan.

B.      Pertanyaan Pemantik

1       Struktur: "Jika diibaratkan rumah, bagian proposal manakah yang berfungsi sebagai pondasi dan bagian manakah yang berfungsi sebagai atap? Jelaskan mengapa latar belakang masalah (pondasi) harus selalu koheren dengan rumusan masalah (tiang)?"

èPondasi harus kuat karena menjadi dasar berdirinya seluruh bangunan. Latar belakang yang lemah atau tidak relevan akan menyebabkan rumusan masalah kehilangan arah.
Koherensi antara latar belakang dan rumusan masalah penting karena latar belakang menjelaskan mengapa penelitian perlu dilakukan, sedangkan rumusan masalah menjelaskan apa yang akan diteliti. Jika keduanya tidak selaras, maka penelitian akan tampak tidak logis dan kehilangan urgensi ilmiah.

2       Metodologi: "Bagaimana seorang peneliti dapat memutuskan bahwa pendekatan kualitatif lebih tepat digunakan daripada kuantitatif (atau sebaliknya) untuk sebuah topik, dan elemen kunci apa yang menjadi penentu utama dalam Bab Metodologi?"

è Seorang peneliti dapat memutuskan menggunakan pendekatan kualitatif atau kuantitatif dengan melihat tujuan penelitian dan jenis data yang dibutuhkan.
Pendekatan kualitatif lebih tepat digunakan jika penelitian bertujuan memahami makna, proses, atau pengalaman subjek secara mendalam. Sebaliknya, pendekatan kuantitatif digunakan jika penelitian bertujuan mengukur variabel, menguji hipotesis, dan melakukan generalisasi.
Elemen kunci penentu dalam Bab Metodologi adalah rumusan masalah, tujuan penelitian, jenis data, serta teknik analisis data. Ketidaksesuaian antara tujuan dan pendekatan akan melemahkan validitas penelitian.

3       Fungsi: "Proposal penelitian didefinisikan sebagai dokumen prospektif (rencana ke depan). Selain untuk mendapatkan persetujuan, apa konsekuensi terburuk yang mungkin dihadapi peneliti jika ia membuat proposal yang sangat detail, tetapi ternyata tidak konsisten dengan pelaksanaan riset di lapangan?"

è Jika peneliti menyusun proposal yang sangat detail tetapi tidak konsisten dengan pelaksanaan riset di lapangan, konsekuensi terburuknya adalah hilangnya kredibilitas ilmiah.
Peneliti dapat dianggap tidak disiplin secara akademik, melanggar kesepakatan ilmiah dengan pembimbing, serta berpotensi menghasilkan data yang tidak valid. Dalam konteks pendanaan, ketidaksesuaian ini bahkan dapat berujung pada sanksi akademik atau penarikan dana penelitian.

4       Integritas: "Dalam Tinjauan Pustaka, kita dituntut untuk mencari 'research gap' (kesenjangan riset). Apa perbedaan esensial antara research gap yang kuat dan orisinal dengan ide penelitian yang hanya sekadar mengulang riset orang lain (duplikasi)?"

è Research gap yang kuat dan orisinal muncul dari analisis kritis terhadap penelitian terdahulu, bukan sekadar menemukan topik yang belum diteliti.
Research gap menunjukkan adanya keterbatasan teori, metode, atau konteks penelitian sebelumnya yang perlu dikembangkan.
Sebaliknya, penelitian yang hanya mengulang riset orang lain tanpa perspektif baru merupakan duplikasi dan tidak memberikan kontribusi signifikan bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

5       Revisi & Seminar: "Mengapa tahap revisi proposal dan persiapan presentasi seminar dianggap sama pentingnya dengan penyusunan isi proposal itu sendiri? Hal-hal non-teknis apa yang paling sering membuat proposal ditolak pada saat seminar?"

è Tahap revisi dan seminar proposal sama pentingnya dengan penulisan karena menjadi uji kelayakan akademik secara terbuka.
Selain isi, aspek non-teknis yang sering menyebabkan proposal ditolak antara lain:

·        Ketidakmampuan peneliti menjelaskan alur logika proposal

·        Sikap defensif terhadap masukan dosen

·        Kurangnya kepercayaan diri dan penguasaan materi
Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan proposal tidak hanya ditentukan oleh isi tertulis, tetapi juga oleh kemampuan peneliti mempertanggungjawabkannya secara lisan.

C.      Pertanyaan Reflektif

1       Pengalaman Menulis: "Bagian manakah dari struktur proposal (Latar Belakang, Tinjauan Pustaka, atau Metodologi) yang menurut Anda paling menantang untuk disusun secara logis, dan strategi pribadi apa yang Anda gunakan untuk mengatasi tantangan tersebut?"

è Bagian yang paling menantang dalam penyusunan proposal adalah tinjauan pustaka, karena membutuhkan kemampuan membaca kritis, menyintesis berbagai sumber, dan menemukan research gap.
Strategi yang digunakan untuk mengatasi tantangan ini adalah dengan membuat peta konsep teori, membaca artikel jurnal secara sistematis, serta menggunakan manajer referensi seperti Mendeley untuk mengelola sumber secara efektif.

2       Komitmen: "Proposal adalah komitmen tertulis. Jika Anda sedang menyusun proposal, apakah Anda benar-benar yakin bahwa waktu dan sumber daya yang Anda rencanakan dalam Jadwal Penelitian realistis? Jika tidak, bagaimana Anda akan menyeimbangkan idealisme riset dengan realitas sumber daya Anda?"

è Sering kali jadwal penelitian dalam proposal belum sepenuhnya realistis karena keterbatasan waktu, biaya, dan akses data.
Untuk menyeimbangkan idealisme dan realitas, peneliti perlu menyusun prioritas penelitian, memperkirakan risiko lapangan, dan bersikap fleksibel tanpa mengorbankan tujuan utama penelitian.

3       Etika: "Menurut Anda, seberapa besar tanggung jawab etis seorang peneliti untuk memastikan bahwa semua sumber yang dicantumkan dalam Daftar Pustaka benar-benar telah ia baca dan pahami, bukan sekadar pelengkap formalitas?"

è Tanggung jawab etis peneliti terhadap sumber pustaka sangat besar. Setiap referensi yang dicantumkan seharusnya benar-benar dibaca, dipahami, dan relevan dengan penelitian.
Mencantumkan sumber tanpa memahami isinya dapat menyesatkan pembaca dan merusak integritas akademik peneliti.

4       Keterbatasan: "Semua proposal memiliki keterbatasan. Setelah mempelajari unsur-unsur proposal, apa yang akan Anda tulis di bagian Keterbatasan Penelitian Anda untuk menunjukkan bahwa Anda telah berpikir kritis dan realistis tentang ruang lingkup riset Anda?"

è Keterbatasan penelitian sebaiknya ditulis secara jujur, misalnya keterbatasan jumlah sampel, waktu penelitian, atau metode pengumpulan data.
Dengan menuliskan keterbatasan secara jelas, peneliti menunjukkan sikap kritis dan realistis, sekaligus membuka peluang bagi penelitian lanjutan.

5       Transparansi: "Sejauh mana Anda merasa proposal yang Anda susun sudah cukup transparan dalam menjelaskan setiap tahapan metodologi, sehingga jika ada peneliti lain yang ingin mereplikasi studi Anda, mereka dapat melakukannya dengan mudah?"

è Proposal yang baik harus menjelaskan setiap tahapan metodologi secara rinci dan transparan.
Jika peneliti lain dapat mereplikasi penelitian berdasarkan proposal tersebut, maka proposal telah memenuhi prinsip keterbukaan ilmiah.
Bagian yang sering perlu diperjelas adalah teknik pengambilan sampel dan prosedur analisis data, karena keduanya sangat menentukan keabsahan hasil penelitian.

 

 

Jumat, 21 November 2025

Tugas Mandiri 9


A.     Buat Ringkasan 10 poin penting.

1.    Hakikat riset: Proses sistematis cari fakta valid untuk teori umum dan solusi masalah

2.    4 kriteria ilmiah: Objektif (fakta), sistematis (terstruktur), empiris (data nyata), replikatif (bisa diuji ulang)

3.    3 tujuan utama: Kembangkan ilmu, pecahkan masalah, beri solusi masyarakat

4.    Etika krusial: Kejujuran data, nol rekayasa, informed consent subjek

5.    Plagiarisme bahaya: Curi ide = sanksi akademik + hukum, rusak karir

6.    Kualitatif: Wawancara/observasi gali makna sosial

7.    Kuantitatif: Angka + statistik uji X (bebas) → Y (terikat)

8.    Research gap: Celah dari literature review (teori baru/konteks baru/metode fresh)

9.    Pembatasan topik: Spesifik + realistis data (contoh: TikTok → produktivitas mahasiswa komunikasi)

10.  Strategi sukses: Isu aktual + dosen ahli + mixed methods + ketersediaan data

B.      Pertanyaan Pemantik (Aplikasi Konsep)

1Mengapa pemilihan topik penelitian menjadi fondasi penting dalam keseluruhan proses penelitian ilmiah?

Topik menentukan arah seluruh riset: variabel, metode, data, analisis, hingga kontribusi. Topik salah = riset mandek, gak relevan, susah lulus review. Topik tepat = proses lancar + hasil bermakna.

2Apa saja unsur dasar penelitian yang harus dipahami sebelum menentukan arah topik penelitian?

·     Pahami hakikat riset (objektif, sistematis, empiris)

·     Kenali metode (kualitatif/kuantitatif/mixed) + variabel X-Y

·     Siap etika (anti-plagiat, informed consent)

·     Tahu research gap via literature review awal

3Bagaimana strategi yang efektif dalam membatasi topik agar tidak terlalu luas namun tetap bermakna?

1)     Literature review → temukan celah spesifik

2)     Pake rumus 5W: What (apa), Who (siapa), Where (mana), When (kapan), How (cara)

3)     Narrow down: Umum → spesifik (Media sosial → TikTok semester 8 komunikasi)

4)     Test kelayakan: Data ada? Waktu cukup? Skill cocok?

4Apa yang membuat suatu topik layak untuk diteliti dan bagaimana relevansi topik terhadap disiplin ilmu dapat ditentukan?

     Layak: Ada gap, data tersedia, urgent, feasible, orisinal. 

    Relevansi: Hubungkan ke teori bidang studi + isu kontemporer (contoh: manajemen proyek → agile di UMKM Indonesia).

5Sejauh mana minat pribadi, ketersediaan data, dan urgensi sosial memengaruhi keputusan akhir dalam memilih topik?

·     Minat pribadi (40%): Motivasi tinggi → riset selesai

·     Data tersedia (30%): Tanpa data = riset gagal

·     Urgensi sosial (30%): Kontribusi nyata → publikasi mudah

     Keputusan akhir: Balance 3 faktor + konsultasi dosen.

C.      Pertanyaan Reflektif (Eksplorasi Pribadi)

1Pernahkah Anda merasa bingung dalam memilih topik penelitian? Apa penyebab utamanya, dan bagaimana Anda mengatasinya?

Pernah bingung 2 bulan antara "manajemen proyek umum" vs spesifik. Penyebab: Takut terlalu sempit. Solusi: Baca 20 jurnal SINTA → temukan gap "agile di proyek pendidikan Indonesia" → langsung jelas.

2Topik seperti apa yang paling sesuai dengan minat akademik Anda? Sudahkah Anda mempertimbangkan topik itu untuk penelitian Anda ke depan?

Manajemen proyek + estimasi biaya di sektor pendidikan vokasi Indonesia. Sudah rencana jadi skripsi: "Efektivitas metode PERT untuk proyek pembangunan sekolah vokasi di Jakarta".

3Menurut Anda, lebih penting mana antara memilih topik yang sedang tren atau topik yang sesuai dengan nilai dan visi pribadi Anda? Mengapa?

Nilai pribadi lebih penting. Tren cepat berubah, tapi passion tahan lama → riset berkualitas. Tren bagus kalau selaras passion (contoh: AI tren, tapi passion saya manajemen proyek).

4Seberapa besar pengaruh dosen pembimbing, teman sebaya, dan sumber literatur dalam proses pemilihan topik Anda selama ini?

·     Literatur (50%): Tentukan gap & feasible

·     Dosen (30%): Validasi kelayakan + arahan metode

·     Teman (20%): Brainstorm ide awal

Urutan: Literatur → dosen → teman.

5.  Setelah memahami konsep dan strategi pemilihan topik, apa perubahan pendekatan yang akan Anda lakukan dalam penelitian selanjutnya?

1)     Literature review dulu 2 minggu sebelum finalisasi topik

2)     Buat research gap map (mindmap celah teori/metode)

3)     Test 3 topik dengan checklist kelayakan (data, waktu, skill)

4)     Konsultasi dosen minggu 1, bukan nunggu bingung

5)     Zotero dari hari 1 untuk kelola 100+ referensi

Minggu, 02 November 2025

Tugas Mandiri 7

A.      BUAT RINGKASAN 10 POIN PENTING

1.      Informasi Ilmiah: Hasil riset sistematis, objektif, terpublikasi, didukung bukti empiris

2.      Jenis Sumber: Jurnal, prosiding, skripsi/tesis, buku referensi, laporan penelitian

3.      Pencarian Efektif: Google Scholar, DOAJ, SINTA/GARUDA + operator Boolean (AND/OR/NOT)

4.      Evaluasi Kredibilitas: 5C - Akurasi, Otoritas, Objektivitas, Cakupan, Kekinian

5.      Waspada Predator: Jurnal biaya tinggi, review abal-abal, tidak terindeks Scopus/SINTA

6.      Software Referensi: Zotero/Mendeley untuk simpan, anotasi, generate kutipan otomatis

7.      Kutipan Langsung vs Parafrase: Kutipan pakai tanda kutip + halaman, parafrase tetap cantumkan sumber

8.      Format Populer: APA (psikologi), MLA (sastra), Chicago (sejarah) - konsisten sepanjang tulisan

9.      Etika Akademik: Aturisi wajib, hormati hak cipta, transparansi sumber, hindari self-plagiarism

10.   Manfaat Utama: Karya kredibel → lolos review → publikasi sukses → karir akademik maju

 

B.      PERTANYAAN PEMANTIK

1       Apa perbedaan antara informasi ilmiah dan informasi populer?

Informasi ilmiah berbasis riset sistematis, objektif, peer-reviewed, untuk audiens ahli. Informasi populer bersifat umum, subjektif, sensasional, untuk pembaca awam tanpa verifikasi ketat.

2       Bagaimana cara menelusuri informasi ilmiah yang valid di internet?

1)     Gunakan Google Scholar/SINTA/DOAJ

2)     Kata kunci + sinonim + operator Boolean ("manajemen proyek" AND "metode PMBOK")

3)     Filter tahun terbaru + jenis jurnal/prosiding

4)     Cross-check indeksasi Scopus/SINTA/Scimago

3       Sebutkan kriteria untuk menilai kredibilitas sebuah jurnal ilmiah.

·        Terindeks Scopus/SINTA/DOAJ

·        Peer review double-blind

·        ISSN/ISBN resmi

·        DOI stabil

·        Editor board kredibel (profesor/peneliti terkenal)

·        Tidak minta biaya publikasi berlebihan

4       Mengapa penghindaran plagiarisme penting dalam penulisan ilmiah?

Plagiarisme = pencurian intelektual → sanksi akademik (DO), rusak reputasi, batal publikasi, hukum pidana hak cipta. Argumentasi ilmiah butuh orisinalitas + penghargaan kontribusi orang lain.

5       Bagaimana format penulisan daftar pustaka untuk sumber daring?

Penulis. (Tahun). Judul artikelNama Jurnal, volume(issue), halaman. https://doi.org/xxxx
Contoh:
Susanto, A. (2023). Manajemen proyek berbasis agile. Jurnal Teknik Indonesia, 15(2), 45-60. https://doi.org/10.1234/jti.2023.15.2.45

 

C.      PERTANYAAN REFLEKTIF

1       Apa perbedaan antara informasi ilmiah dan informasi populer?

Pernah pakai blog pribadi untuk makalah manajemen proyek. Dampak: dosen kasih nilai C, revisi total, hilang 2 minggu waktu, belajar keras cari jurnal SINTA.

2       Bagaimana cara menelusuri informasi ilmiah yang valid di internet?

Terpercaya: Terindeks SINTA/Scopus, review 2-3 bulan, gratis/low cost. Predator: Email spam "publish fast", biaya $1000+, review 1 minggu, website mirip jurnal asli tapi domain baru.

3       Sebutkan kriteria untuk menilai kredibilitas sebuah jurnal ilmiah.

Kesulitan: Format berubah-ubah, lupa urutan. Solusi: Install Zotero browser connector → one-click import → auto-generate APA/MLA, cek manual DOI + tanggal akses.

4       Mengapa penghindaran plagiarisme penting dalam penulisan ilmiah?

Sudah pakai Zotero 2 tahun. Kelebihan: Sync cloud gratis, PDF annotation, share library tim, generate bibliography 1 klik. Kekurangan: Lambat kalau ribuan file. Lebih suka Zotero daripada Mendeley (MS Word plugin Zotero lebih smooth).

5       Bagaimana format penulisan daftar pustaka untuk sumber daring?

1)       Selalu pakai Zotero sejak awal riset
2)       Checklist 5C sebelum simpan sumber
3)       Tulis inline citation langsung saat draft (bukan nanti)
4)       Cross-check 10% referensi manual 
5)    Pelajari APA 7th update untuk sumber AI/media sosial